Jumat, 29 Juli 2011

Langkah dan Tahap Format Ulang Hard Disk dan instal ulang operating system

 

1. Back up / data-data penting yang ada di hardisk karena dengan format akan menghapus semua file yang ada di hard disk kita.

2. Ganti Setting Bios, Ketika komputer dihidupkan kita mesti masuk ke tampilan bios dulu untuk menyetting pilihan urutan booting. jadi ketika kita baru nyalain komputer kita, kita tekan tombol delete sampai bios tampil di layar monitor komputer kita. Ganti urutan booting dengan urutan pertama adalah DVD/CD ROM .

3. Format Hard Disk
Setelah bios kita ganti serta disave anda masukkan disket di DVD/CD ROM kemudian restart komputer anda. Nanti komputer kita akan otomatis booting dari disket tersebut dan pilih boot without cd-rom supaya proses booting bisa berjalan lebih cepat. Setelah kita masuk ke command prompt a:\ ketik format c: lalu tekan enter. sesuaikan dengan jumlah partisi anda yang anda inginkan. Jika format sudah berakhir kasih nama drive tersebut sesuai keinginan kita. Selesai. 

B. Langkah dan Tahap Install Ulang OS Windows dan Linux

1. Install Windows 98 / 2000 / ME / Vista / Xp / Linux (OPERATING SYSTEM)
Langkah pertama, lakukan booting (nyalain dari awal) lalu Masukin CD OS lalu tinggal restart                komputer anda dan proses instalasi akan berjalan sendiri, tinggal di next-next aja lalu nanti anda akan memilih  ingin di instal di drive mana OS anda, lalu pilih format and instal.

2. Install Driver dan Software
lalu setelah proses instal berhasil maka kita tinggal instal ulang aja driver-driver dan software-software yang kita butuhkan.

Rabu, 27 Juli 2011

Kehidupan Laut di Ambang Kepunahan Massal



Kepunahan massal sebelumnya terjadi pada 65 juta tahun lalu. Namun ketika itu penyebabnya adalah asteroid yang menghantam Bumi. (euphoria-magazine.com)


VIVAnews - Kehidupan di laut berada dalam risiko akan kepunahan massal terbesar dalam jutaaan tahun terakhir akibat berbagai ancaman yang ditimbulkan manusia. Ancaman tersebut antara lain adalah penangkapan ikan secara berlebihan, perubahan iklim, dan limbah yang mengalir ke laut.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh International Programme on the State of the Ocean (IPSO), kita mulai kehabisan waktu untuk mengatasi bahaya misalnya hancurnya kehidupan karang atau penyebaran “zona mati” atau kawasan rendah oksigen.

“Dalam satu generasi saja, kita kini menghadapi kehilangan sejumlah spesies bahkan seluruh ekosistem laut seperti terumbu karang,” sebut penelitian yang dilakukan oleh 27 pakar yang akan mempresentasikan hasil penelitian mereka di PBB.

Dalam laporannya, para peneliti menyebutkan, kecuali ada tindakan yang diambil saat ini juga, konsekuensi dari aktivitas manusia berisiko tinggi menyebabkan berbagai kombinasi efek dari perubahan iklim, eksploitasi berlebihan dan polusi. “Hilangnya habitat merupakan agenda pemusnahan massal yang segera terjadi di laut,” sebut laporan itu.

Dikutip dari News Daily, 24 Juni 2011, pada laporan itu para ilmuwan mencatat, dalam 600 juta tahun terakhir terdapat 5 kejadian pemusnahan massal di Bumi. Yang terakhir terjadi adalah ketika asteroid menghantam planet ini pada 65 juta tahun lalu dan menyebabkan musnahnya dinosaurus.

Sebelumnya, sekitar 250 juta tahun lalu, asteroid juga diperkirakan pernah menghantam dan menyebabkan pemusnahan massal terbesar yang pernah terjadi di Bumi.

“Temuan bahwa akan musnahnya kehidupan laut sangat mengejutkan,” kata Alex Rogers, Scientific Director IPSO yang menuliskan kesimpulan. “Ikan merupakan sumber protein utama bagi seperlima populasi dunia dan laut mendaur oksigen serta membantu menyerap karbon dioksida, gas rumah kaca utama yang ditimbulkan oleh umat manusia,” ucapnya.

'Kota Misterius' Muncul di Atas Sungai China



Kota Misterius di China (YouTube)


VIVAnews - Pemandangan menakjubkan muncul di China pada awal bulan ini. Sebuah kota misterius muncul di atas Sungai Xin'an.

Kota misterius itu muncul di langit Cina Timur setelah hujan deras. Saat itu, kondisi lembab menutupi Sungai Xin'an.

Kota misterius itu terlihat seperti pemandangan kota lainnya. Tampak gedung pencakar langit, beberapa gunung dan sedikit pohon-pohon.

Pemandangan itu terlihat oleh warga di Kota Huanshan. Muncul beragam spekulasi dari mereka, diantaranya menganggap tempat itu merupakan 'pusara' dari 'peradaban yang hilang'.

"Ini benar-benar luar biasa, terlihat seperti sebuah adegan di film, di negeri dongeng," kata seorang warga kepada saluran berita Inggris, ITN sebagaimana dimuat laman foxnews.com, 27 Juni 2011.

Namun, semua itu ternyata tak nyata alias fatamorgana. Para ilmuwan telah membatalkan teori 'pusara' dan 'peradaban yang hilang'.

Para ahli percaya pemandangan itu mungkin hanya sebuah fatamorgana yang disebabkan ketika kelembaban di udara yang menjadi lebih hangat dari suhu air di bawahnya.

Ketika sinar matahari melewati udara dingin ke udara hangat, cahaya itu dibiaskan atau belokan. Sehingga menciptakan sebuah bayangan di udara yang terlihat mirip dengan sebuah bayangan di air.

Refleksi itu merupakan pemandangan umum bagi banyak wisatawan yang berkunjung di daerah basah.


Segitiga Bermuda (NASA)


Lautan penuh dengan misteri. Manusia kebanyakan memilih mengaguminya dari tepian. Ada beberapa lokasi laut di dunia yang ditakuti. Di mana pesawat dan kapal menghilang tanpa jejak. Atau punya pusaran air raksasa, ombak dahsyat, atau lingkaran cahaya misterius di dalam air. Ada sebuah tempat di mana semua fenomena terjadi sekaligus: Segitiga Bermuda.

Berikut fenomena misterius di lautan seperti dimuat situs berita Rusia, Pravda:

1. Segitiga BermudaMeliputi wilayah yang luasnya jutaan kilometer persegi. Disebut segitiga karena lokasinya yang berada di antara tiga wilayah -- Kepulauan Bermuda, Puerto Rico, dan Fort Lauderdale.

Misteri Segitiga Bermuda dipicu peristiwa hilangnya skuadron yang terdiri atas lima pembom torpedo Angkatan Laut pada 5 Desember 1945. Jasad 14 kru Penerbangan 19 hingga saat ini tidak ditemukan. Setidaknya ada 50 kapal dan pesawat yang dilaporkan hilang di wilayah itu. Namun, Segitiga Bermuda kehilangan reputasi mistisnya, juga daya tariknya pertengahan tahun 1980-an.
Sejumlah teori berusaha menjelaskan fenomena aneh di Segitiga Bermuda - dari pseudosains, paranormal, sampai UFO. Namun, yang paling meyakinkan dikemukakan oleh Joseph Monaghan dari Monash University. Pada 2003, ilmuwan tersebut menulis artikel dalam American Journal of Physics. Judulnya, 'Bisakah Gelembung Metana Menenggelamkan Kapal?'

Menurut Monaghan, gelembung besar  bisa terbentuk dari deposit metana padat -- yang dikenal dengan gas hidrat. Untuk diketahui gas metan bisa memadat di bawag tekanan besar di dalam laut. Deposit metana yang mirip es bisa pecah, berubah gas, dan menciptakan gelembung di permukaan air. Konsentrasi gas yang lepas bisa menyebabkan kerusakan alat elektronik pada pesawat juga kapal. Tak hanya itu, kapal bisa tenggelam di lokasi tersebut karena pengurangan kepadatan (densitas) air secara mendadak.

Fenomena lain di Segitiga Bermuda disebut Flying Dutchman - lenyapnya awak kapal secara misterius. Teori ilmiah ditawarkan untuk menjelaskan dari hilangnya para pelaut itu. Yakni infrasonik. Beberapa ilmuwan yakin, infrasonik itu ditimbulkan gelembung gas metana saat naik ke permukaan.

Getaran infrasonik memicu resonansi berbahaya di jantung dan pembuluh darah. Saat itu, manusia yang terkena bisa terserang panik. Ini mungkin yang membuat para pelaut panik dan melompat ke luar kapal - untuk melepaskan diri dari perasaan aneh yang menimpanya.

Bagaimanapun, tak ada satupun teori yang menjelaskan, mengapa pada pertengahan tahun 1980-an, Segitiga Bermuda berhenti  melahap kapal dan pesawat.  Mungkin karena kemajuan teknologi pesawat dan kapal.


2. Laut Sargasso
Banyak orang menyamakan Laut Sargasso dengan Segitiga Bermuda. Padahal perairan ini terdapat di tenggara Segitiga Bermuda di Samudera Atlantik. Ada beberapa keunikan di wilayah ini. Samudera bergerak searah jarum jam, tedapat banyak alga Sargassum di dalamnya.

Laut ini memiliki pusaran raksasa yang memiliki aturannya sendiri. Temperatur di luar pusaran jauh lebih tinggi dari bagian luarnya. Sejumlah orang yang berlayar di sana mengaku melihat fatamorgana: misalnya, Matahari terbit di Timur dan Barat dalam waktu bersamaan.

Richard Sylvester dari University of Western Australia berpendapat, pusaran raksasa Sargasso bersifat sentrifugal -- yang lantas menciptakan pusaran kecil yang mencapai wilayah segitiga bermuda. Pusaran kecil ini menimbulkan siklon mini di udara -- cukup kuat untuk mencelakakan sebuah pesawat kecil.

3. Laut Setan (Devil's Sea)
Ini adalah wilayah di Pasifik, sekitar Pulau Miyake - 100 kilometer Selatan Tokyo. 'Saudara' Segitiga Bermuda ini tidak bisa ditemukan di peta manapun, namun para pelaut memilih untuk menghindarinya. Badai bisa muncul secara tiba-tiba dan menghilang sama mendadaknya. Paus, lumba-lumba, bahkan burung tak hidup di wilayah itu. Sembilan kapal menghilang dalam waktu lima tahun pada tahun 1950-an. Yang paling terkenal adalah menghilangnya Kaiyo Maru No.5, kapal riset Jepang.

Laut Setan berada di kawasan seismik yang sangat aktif. Lantai laut bergerak konstan. Pulau vulkanik muncul dan menghilang secara reguler. Wilayah ini juga diketahui sangat aktif aktivitas siklonnya.

4. Tanjung Harapan
Daerah ini juga dikenal sebagai Tanjung Badai. Kapal-kapal besar tenggelam dalam kurun waktu ratusan tahun. Sebagian besar kapal hancur karena cuaca buruk, khususnya ombak mematikan, atau 'cape roller'. Para ilmuwan menyebutnya gelombang soliter -- yang tingginya bisa mencapai 30 meter, sejatinya terdiri dari dua ombak yang bergabung menjadi satu.

Gelombang raksasa itu menciptakan rongga besar, yang tingginya hanya sedikit lebih rendah dari gelombang itu. Meski fenomena ombak ini bisa terjadi di laut lainnya, namun area di Tanjung Harapan yang paling bahaya.

5. Bagian Timur Samudera Hindia dan Teluk Persia
Daerah ini dikenal fenomena yang sangat mengesankan dan misterius: lingkaran cahaya raksasa yang berputar-putar di permukaan air.

Ahli kelautan Jerman, Kurt Kahle percaya, fenomena itu adalah akibat dari gempa bawah laut, yang menimbulkan pendaran plankton. Lalu timbul gerakan seperti putaran roda. Namun, hipotesis ini menuai kritik akhir-akhir ini karena belum mampu menjelaskan transformasi lingkaran cahaya secaralogis. Sains modern juga belum mampu menjelaskan bentuk lingkaran sempurna obyek tersebut. Karenanya, muncul teori baru yang sebenarnya lebih tak masuk akal: UFO.

6. Pusaran air (maelstrom)
Meski tak terlalu mengesankan seperti pusaran air di Laut Sargasso. Namun para pelaut tahu fenomena menakjubkan tentang pusaran jenis ini. Pusaran air ini terjadi dua kali  sehari, di bagian barat laut Laut Norwegia Kata 'maelstrom' dipopulerkan oleh Edgar Alan Poe. Maelstrom adalah air yang berputar kuat dan besar. Permukaan air dari pusaran lebihrendah puluhan meter dari permukaan air laut. Kekuatannya puluhan kali lipat dari arus biasa.

Yang aneh, pusaran berubah arah berlawanan setiap tiga sampai empat bulan. Bisa terjadi di manapun, termasuk Segitiga Bermuda. Diyakini, pusaran berputar berlawanan arah jarum jam di belahan bumi utara dan searah jarum jam di bagian bumi selatan.

Tsunami Aceh 2004 Bukan yang Pertama



Hasil temuan ini menepis anggapan bahwa sebelumnya di Aceh tidak pernah terjadi gempa bumi yang dahsyat di atas 9,0 skala Richter. Sayangnya, temuan didapat setelah bencana terjadi. (earthquake.it)
 
 
Tsunami dahsyat yang melanda Aceh pada 2004 silam diyakini merupakan tsunami terbesar yang pernah melanda kawasan tersebut. Namun, hasil riset terbaru menunjukkan fakta lain. Tsunami berskala besar pernah terjadi di Aceh sebelum tahun 2004.

“Dari riset yang dilakukan di Meulaboh, Nanggroe Aceh Darussalam, berdasarkan endapan paleotsunami, dapat dilihat bahwa pernah terjadi giant tsunami di Aceh sekitar 600 tahun silam,” kata Eko Yulianto, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di Pusat Studi Bencana (PSB) Universitas Gajah Mada.

Hasil temuannya menepis anggapan bahwa sebelumnya di Aceh tidak pernah terjadi gempa bumi yang dahsyat di atas 9,0 skala Richter.

“Tsunami 2004 yang meluluhlantahkan Aceh merupakan bukti bahwa gempa bumi dan tsunami berskala besar bisa terjadi di mana saja,” kata Eko. “Sayangnya, temuan ini diketahui setelah terjadi gempa itu. Jika ditemukan lebih cepat, sebenarnya jumlah korban bisa diminimalisir,” ucapnya.

Selain di Aceh, Eko juga melakukan penelitian di tebing Sungai Cikembulan, Pangandaran, Jawa Barat. Dari penelitian tersebut ditemukan empat lapisan pasir yang menjadi bukti awal di kawasan tersebut pernah terjadi beberapa kali tsunami. Salah satunya berupa lapisan pasir tebal yang diendapkan di atas lumpur mangrove dan ditutupi endapan banjir.

Pada lapisan pasir tersebut terdapat cangkang Foraminifera. Di atas lapisan itu terdapat beberapa lapisan yang memiliki ketebalan sekitar 1-3 cm, salah satunya merupakan bekas tsunami Pangandaran 2006 lalu.

“Ini menunjukkan bahwa pada suatu masa, kurang lebih 400 tahun yang lalu, di wilayah ini diperkirakan pernah terjadi tsunami yang skalanya jauh lebih besar dibanding tsunami 2006 kemarin,” kata pakar paleotsunami ini.
Pendapat senada juga dikemukakan oleh Brian F. Atwater, peneliti dari Badan Survei Geologi AS (USGS). Ia menyebutkan bahwa tsunami Aceh tahun 2004 bukanlah bencana tsunami yang pertama. Ia memperkirakan, sekitar tahun 1800 di Aceh pernah terjadi bencana yang sama.

Pulau Es Raksasa Hanyut di Laut Lepas



Pulau itu kemungkinan tidak akan mencapai daratan karena bagian dasar bongkahan es itu akan tersangkut di dasar laut sebelum ia tiba di pantai. Namun ia mengancam kilang minyak dan lalu-lintas kapal. (AP Photo)


- Sebuah ‘pulau’ es raksasa telah hanyut sekitar 10 kilometer dari pantai Labrador, Kanada. Informasi ini dikonfirmasikan oleh gambar-gambar satelit milik NASA.

Sebagai informasi, pada Agustus 2010 lalu, gletser Petermann di pesisir barat laut Greenland telah melepaskan sebuah bongkahan es yang ukurannya sama besar dengan Manhattan, kawasan berpopulasi terpadat di New York, Amerika Serikat.

Hampir setahun kemudian, yakni 25 Juli 2011, pulau es yang diberi nama Petermann Ice Island-A (PII-A), masih tampak jelas oleh Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) yang ada di satelit Terra, milik NASA.

Pulau es raksasa itu terus hanyut ke arah selatan, mengikuti pesisir pantai. Saat ini, pulau itu diperkirakan berada di 10 kilometer timur Spear Harbour, Newfoundland, Kanada.

Dikutip dari Universe Today, 27 Juli 2011, pulau itu kemungkinan tidak akan mencapai daratan karena bagian dasar bongkahan es itu akan tersangkut di dasar laut jauh sebelum  tiba di pantai. Canadian Ice Service (CIS) juga melaporkan bahwa ukuran pulau PII-A terus menyusut akibat banyaknya bongkahan kecil yang memisahkan diri ataupun mencair.

Meski tidak akan menabrak daratan, namun pulau es besar itu menghadirkan ancaman bagi kilang minyak lepas pantai dan jalur lalu-lintas kapal.

Dari pantauan terakhir NASA, pulau itu kini ukurannya tinggal 52 kilometer persegi. Namun ia tengah berada di selat Belle Isle, yang merupakan jalan pintas bagi kapal dari dan menuju kawasan Amerika utara dan Eropa atau kapal yang rutenya ada di timur laut dan barat laut Amerika Utara

Ditemukan, 12 Gunung Berapi di Bawah Laut


Selain gunung, peneliti juga menemukan kawah berdiameter 5 kilometer yang diakibatkan oleh letusan gunung. Adapun 7 gunung berapi aktif lain terlihat dari atas permukaan laut sebagai rangkaian pulau. (explorersweb.com)

VIVAnews - Peneliti dari British Antarctic Survey (BAS) menemukan gunung berapi yang sebelumnya belum pernah diketahui keberadaannya. Gunung berapi itu berada di perairan sekitar South Sandwicth Islands, pulau di selatan samudera atlantik, dekat Argentina yang diklaim milik Inggris.

Menggunakan teknologi pemetaan yang dipasang di kapal laut, peneliti di kapal RSS James Clark Ross menemukan 12 gunung berapi di bawah permukaan laut. Beberapa gunung itu bahkan memiliki ketinggian hingga 3 kilometer.

Selain gunung, peneliti juga menemukan kawah berdiameter 5 kilometer yang diakibatkan oleh letusan gunung. Adapun 7 gunung berapi aktif lain bisa terlihat dari atas permukaan laut sebagai rangkaian kepulauan.

“Banyak hal yang tidak kita pahami seputar aktivitas volkanik di bawah permukaan laut,” kata Phil Leat, peneliti dari British Antarctic Survey di ajang International Symposium on Antarctic Earth Sciences, seperti dikutip dari Explorersweb, 27 Juli 2011. “Tampaknya, gunung berapi ini bisa meletus dan runtuh setiap saat,” ucapnya.

Leat menyebutkan, penelitian ini juga sangat penting untuk memahami apa yang terjadi ketika gunung berapi bawah laut meletus atau runtuh dan potensi bahaya yang mereka hadirkan.

“Teknologi yang kini bisa digunakan oleh ilmuwan di atas kapal tidak hanya memberikan peluang bagi kami untuk mengumpulkan berbagai cerita seputar evolusi planet kita, akan tetapi juga bisa menyibak rahasia berkembangnya kejadian alami yang berbahaya bagi orang yang tinggal di kawasan padat lain di Bumi,” ucapnya.